Tuesday, June 7, 2011

Refleksi: Kemerdekaan Perkutut Di Sangkar Cambridge


Alkisah, adalah seorang penyair penggemar burung perkutut menjelang tanggal 17 Agustus 2010 berencana melakukan upacara kemerdekaan dengan cara yang berbeda dari biasanya. Ia akan membebaskan seluruh burung perkutut peliharaannya tepat pada pukul 10 menjelang detik-detik peringatan proklamasi kemerdekaan.

Beberapa hari sebelumnya ia telah dirikan 320 tiang bamboo di halaman rumahnya yang lapang. Tiap tiap telah dilengkapi tali pengerek sangkar bagai deretan pasukan siswa dalam upacara bendera. Tiap-tiap sangkar diisi dengan satu burung agar memudahkan setiap burung terbang menuju cakrawala luas, mengarungi alam bebas.

Tepat pada pukul 10 pada hari kemerdekaan burung-burung itu akan dilepas ke udara, dan penyairpun akan berteriak lantang ….merdeka!!! Ia akan kerahkan seluruh kekuatan tenggorokannya untuk mengusir burung-burung itu ke langit lepas seperti teriakan komandan upacara di depan istana. Lalu burung-burung itu pun mengepakan sayapnya, keluar dari sangkar…. terbang……terus terbang ….adu cepat menaklukan ketinggian, bagai gemuruh pasukan angkatan udara menerbangkan pesawat tempur pada ulang tahun angkatan bersenjata. Pasukan burung itu bernyanyi riang….maju tak gentar, terbang dan terbang makin jauh…membentang sayap, dalam kerja sama udara yang mencengangkan.

Saat yang direncanakan tiba, sang penyair pun dengan pakaian rapih, mengerek sangkar kepuncak-puncak tiang bambu mengantarkan burung-burung di kehangatan matahari pagi. Hatinya hangat dengan cita-cita seperti para pengelola sekolah bertaraf internasional.

Tepat pada pukul 10 sang penyair pun dalam pidato singkatnya berteriak lantang, “wahai burung-burung kesayanganku pada hari ini, saya hadiahkan kepada kalian kemerdekaan! Kalian saya bebaskan, kalian tahu…inilah hadiah terbesar dalam hidupku, hadiah yang paling mahal bahkan tidak ternilai! Sekarang, ……bersiapkan kalian semua untuk terbang! Merdeka…….!!! Merdeka…Merdeka….!!!

Ayo….terbang, ayo terbang….penyair pun berteriak-teriak hingga suaranya parau.

Wahai burung-burung kesanganku, terbanglah kalian…..ayo…terbang, kalian telah saya hadiahi kemerdekaan, mengapa tak mau terbang? Ia guncang-guncang setiap tiang, namun burung-burung pun tetap berada dalam sangkarnya.

*

Malam harinya sang penyair pun bermimpi. Ia diudang dalam pertemuan musyarah para burung, dalam mimpinya baju-baju burung semua mengenakan baju putih dan menggunakan tanda peserta dan emblim warna merah bertuliskan Cambridge.

Dalam sambutan ketua panitia, ketahuilah bahwa sarang made in cambridge ini bagi kami sudah cukup….apalagi tetap tinggal di rumah Tuan yang berkecukupan, Indonesia sudah cukup untuk kami. Oleh karena itu sekarang kami menyatakan mohon Tuan jangan memaksa kami untuk mengarungi cakrawala luas…..

No comments:

Post a Comment

Feedage Grade B rated
Ping your blog, website, or RSS feed for Free My Ping in TotalPing.com
Preview on Feedage: perkutut-amak Add to My Yahoo! Add to Google! Add to AOL! Add to MSN
Subscribe in NewsGator Online Add to Netvibes Subscribe in Pakeflakes Subscribe in Bloglines Add to Alesti RSS Reader
Add to Feedage.com Groups Add to Windows Live iPing-it Add to Feedage RSS Alerts Add To Fwicki